Sore tadi, seperti biasanya. Sepulang dari kantor, Hannan langsung nagih untuk jalan-jalan. Jalan-jalan yang membuahkan sebuah koin Langka, dari hasil kembalian
belanjaan di Indomaret. 1000 rupiah gambar kelapa sawit produksi tahun
1995. Sebagai ayah yang baik, tentu saja saya harus turuti permintaan Hannan sekedar belanja Pocari Sweat. Padahal, badan sudah remuk sisa lelahnya perjalanan kemarin, sehari sebelumnya. Untuk info lebih lengkap tentang langkanya koin 1000 Rupiah bergambar kelapa sawit ini, silahkan kunjungi penjelasannnya disini.Apakah saya akan menjualnya? Kabarnya, di daerah Kwitang koin sejenis (entah keluaran tahun ke berapa) dihargai Rp 300.000,- Angka yang lumayan untuk nilai uang yang sebenarnya hanya 1000 Rupiah saja. Tapi sepertinya, saya gak akan jual. Alasan pertama, tentunya karena langka. Kalau tidak percaya, silahkan jujur saja diingat-ingat, ditahun 2014 ini, sudah berapa kali menemukan koin 1000 Rupiah bergambar kelapa sawit? Secara logika saja, perhatikan iklan² yang menjual koin ini di dunia online, mereka sepertinya memborong semua koin bergambar kelapa sawit ini. Terlihat dari photo yang mereka update, stok mereka banyak sekali, mungkin serupa dengan stok koin di kantor Bank Cabang, hehehee.
Kalau mereka memborong semua koin ini, tentunya yang beredar dimasyarakat untuk dijadikan alat transaksi, menjadi berkurang, bahkan menjadi tidak ada. Jadi, tentunya menarik kalau kami (saya dan Hannan), mendapatkannya murni dalam kejadian transaksi normal, bukan karena membeli dari kolektor atau pedagang khusus koin. Alasan Kedua, sudah terlalu banyak barang yang saya beli, lalu saya jual lagi. Saya dapatkan, lalu saya jual lagi. Untuk kali ini, karena bentuknya yang mini, juga bisa masuk dompet, maka biarlah, menjadi bagian dari isi dompet saya. Seru juga bisa punya uang koin, yang orang disekitar saya belum tentu punya. Bahkan mungkin, belum tentu pernah memegangnya,
Sedikit kisahnya, bahwa koin sayang saya miliki ini sudah berada didompet, tapi tidak saya sadari tentang nilai kelangkaannya. Sepulang dari Indomaret, saya berikan koin ini ketukang parkir. Namun ternyata, Hannan tidak pernah melihat koin itu sebelumnya, lantas dia bertanya :
"Yang abi kasih itu, apa?"
Saya katakan : "itu uang, seribu rupiah."
Nah, padahal motor sudah menjauh dari lokasi parkir. Tapi saya baru sadari bahwa uang yang saya berikan ke tukang parkir tadi tentunya berharga. Hannan saja yang usianya sudah 5 tahun, belum pernah melihat uang dengan wujud dan bentuk seperti itu. Artinya, setidaknya sudah selama 5 tahun uang itu tidak lagi beredar secara masif dimasyarakat. Maka, motor pun putar balik, untuk menemui tukang parkir tadi. Sedikit negoisasi, bahkan sedikit juga merepotkan si tukang parkir, karena ternyata dikantongnya banyak banget recehan, kayanya dia tukang parkir terkaya di Jakarta (halah). Untungnya, koin yang saya maksud ditemukan. Lalu saya tukar dengan nilai yang sama. Yes, saya punya koin langka, hahahaa... alhamdulillah.
Koin ini disebut dengan koin bimetal. Koin yang unik karena dalam satu koin terdiri dari 2 material yang berbeda dengan warna yang kontras. Terlihat artistik tentunya. Koin 1000 lama ini berbahan BiMetal, Kuningan dan Nickel sedangkan Koin 1000 yang beredar setelahnya (sekarang) berbahan campuran Copper Nickel. Pada beberapa event perkawinan, uang ini juga diburu untuk dijadikan nilai mas kawin.
Demikian sedikit berbagi cerita tentang uang langka, tulisan ini akan berlanjut dengan kisah yang tidak kalah serunya. Seharusnya, blog ini update dari hari Minggu kemarin. Dan rencananya memang setidaknya dalam satu hari, ada update blog. Blog jadi terasa bermanfaat ketika saya coba membacanya lagi diwaktu yang lain, seperti berkaca. Berkaca atas waktu yang sudah terlewati, baikkah atau tersia-sia? Kadang ada kejadian yang perlu disyukuri, hanya saja terkhilaf karena terlupa. Blog seharusnya mencatat itu semua, karena otak dan hati kita sudah terkotakkan setiap harinya. Sehingga hari sebelumnya dengan mudahnya kita lupakan, karena otak kita sudah mengkotakkan khusus untuk hari dan saat ini saja.
Kembali ke Minggu dua hari yang lalu. Jam 9 pagi, Hannan sudah bersiap untuk liburan ke rumah Afif, sepupunya di Cipinang. Ini rencana mbahnya sebenarnya, jadi titik point pertama adalah menuju Cipinang untuk antar Hannan.
Kembali ke Kebon Nanas, rencananya mau sekedar tidur mengisi hari Minggu yang kosong tanpa jadual. Tapi, setelah berunding secara singkat, akhirnya diputuskan untuk menengok rumah di Bekasi.
Hasil rundingan ini, diputuskan karena hal ini sudah tertunda bahkan hingga 1 bulan lebih. Padahal seharusnya, kami sudah menengok rumah itu di bulan Ramadhan kemarin. Tapi karena memang Ramadhan terlalu malas untuk bepergian jauh, makanya dengan agak terpaksa, Minggu yang kosong itu, akan menjadi hari Minggu terpadat yang kami alami. akan saya ceritakan berikutnya.
Mengendarai Verza menembus sekitar 30 km menuju Setu, Perumahan Mustika Media. Tujuan kami adalah menengok rumah nomer 37 yang sudah sekitar setahun ini kami cicil. Perumahan yang kini sudah terlihat padat. Padahal, setahun yang lalu masih terasa sepi. Sepertinya juga, semua plan pembangunan sudah selesai, jadi tidak ada rumah baru lagi. Bahkan, kantor pemasarannya pun, sepertinya sudah tutup.
Rumah no 37 tampak kusut (rumah kusut itu, seperti rambut lah, berantakan hahahaaa..). Pintunya tidak terkunci. Didalamnya, berserakan sampah dan barang2 sisa penghuni sebelumnya. Rumah kami ini, memang sempat diisi oleh keluarga muda dengan seorang anak. Bahkan mereka sempat semen sebagian halaman depan. Tapi, mereka sudah tidak menempati rumah ini lagi setidaknya sejak 7 bulan yang lalu.
Setiap rumah itu, penyakitnya sama ya, rapuh dan akan runtuh kalau tidak ditinggali. Baru ditinggal 7 bulan aja sudah banyak yang harus diperbaiki.
Bersama istri, kami sekedar merapihkan. Tidak sempat dan tidak mampu membersihkan karena terlalu kotor dan tidak ada peralatan kebersihan apapun. Tapi, kedatangan kami memang untuk sekedar memotret keadaan, untuk selanjutnya menentukan langkah perbaikan, perapihan. Seperti atap yang bocor, daun pintu yang rusak, jendela yang tidak bisa terbuka. Rumput yang tinggi dihalaman belakang, mungkin sudah jadi kerajaan ular disana hiyyyyy...
Terbayang butuh sekian juta untuk kebutuhan renovasi, okelah, jual motor (uhukk, hikss..)
Selesai urusan check rumah, kami mampir ke Masjid. Sesuai pesanan ketika memilih posisi rumah dulu, sekedar maju ke depan rumah beberapa langkah, sudah sampai ke Masjid Perumahan.
Di Masjid inilah kepadatan waktu dimulai. Karena saya dapatkan order pemesanan Tamiya. Tidak tanggung-tanggung, ada 4 orderan yang saya terima, dan 3 diantaranya harus diselesaikan hari itu juga. Saya menatap istri setelah selesai sholat, lalu bertanya :
"Ke Toko Tamiya yuk ?! di Glodok. Tapi, sebelumnya kita ke Kelapa Gading dulu untuk ambil Mobil yang siap dikirim."
Saya sih sudah duga, istri bakal jawab : "Ayuk!" Karena memang sudah lama gak jalan hanya berdua, biasanya selalu saja diiringi Hannan dan Syamil. Apalagi naik motor baru, hahahaaaa...
Akhirnya, meluncurlah Verza ke Kelapa Gading, kantor saya. Untuk ambil beberapa stok mobil Tamiya yang siap dikirim. Tapi karena belum lengkap, saya harus belanja kekurangannya di pasar Glodok, dekat stasiun Kota. Jadi, sekedar menghabiskan jus botolan yang beli ditengah jalan, lalu kami meluncur lagi ke toko Tamiya, menuju stasiun Kota.
Di Toko Tamiya pun tidak sempat terlalu lama, karena jam 4 sudah harus berada di Tebet untuk COD. Walaupun begitu, kami masih menyempatkan mampir ke rumah Om dari istri, karena lokasinya tidak terlalu jauh dari Glodok, yaitu di Grogol.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, di rumah si Om saya pesen mie ayam. Sungguh, sepanjang perjalanan setiap lihat gerobak mie ayam, makan semakin bertambah rasa lapar diperut saya. Di dinding jam masih menunjukkan pukul 3 sore. Sedikit negosiasi waktu dengan calon buyer, maka ke Tebet bisa sedikit lebih sore. Silaturahmi ke rumah Om ini, sungguh berkesan, apalagi tentang mie ayamnya, karena selagi makan, diluar rumah turun hujan. Sambil merakit beberapa part Tamiya yang belum sempurna.
Tujuan belum usai, masih harus COD ke stasiun Tebet. Melenggang dengan tunggangan Verza yang kian tertantang ketangguhannya, kisaran estimasi dari angka dispeedo menunjukkan perjalanan kami semenjak tadi pagi kami sudah hampir 100 km. dan masih harus menuju Tebet.
COD lancar, pukul 5.15. Tidak jauh dari sini, sudah kembali ke titik awal, Kebon Nanas.
Lantas, tentu saja seharusnya kami istirahat kan? Istri saya, iya. Sedangkan saya, masih harus ke Kelapa Gading untuk kerja, masuk shift malam.
Sungguh, hari yang melelahkan.
(Verza yang TANGGUH, mampir ke RM Padang dulu untuk sarapan.Tidak lupa untuk selimuti sang Verza, karena panasnya terlalu terik.Selimut ini berguna setelah motor akan kembali dipakai,tentunya jok tidak terlalu panas walaupun sempat terjemur matahari Bekasi yang dahsyat.)
RSS Feed
Twitter
06:05
Dany Wicaksono, S.Kom



Posted in
0 comments:
Post a Comment