Thursday, 29 January 2015

Innalillah, segalanya akan kembali padaMu yaa Robb. Telah meninggal dunia mertuaku, ibu dari istri tercintaku hari ini pukul 16.30 wib.

Beliau wanita yang hebat, mampu bertahan dan berjuang atas penyakit-penyakit hebat yang menyertainya. Diabetes, Jantung, Darah tinggi, Asma serta Gagal Ginjal. Luar biasa, semua dihadapinya tanpa keluhan.

Masuk ICU setelah tidak sadarkan diri ketika dirumah, begitu sadar minta pulang.

Masuk ruang rawat, permintaanya tetap sama, mau pulang.

Dari mulai ditahan oleh dokter agar tidak pulang, sampai akhirnya para perawat menyarankan untuk pulang dan dirawat dirumah aja.

Pada tanggal 28 Januari 2015, kami bisa memenuhi permintaannya untuk pulang, dengan melobby dokter dan menandatangani surat pernyataan bahwa permintaan pulang berasal dari keluarga pasien, bukan karena pasien sudah sembuh.

Tadinya, mau menggunakan ambulan dari rumah sakit, tapi baru bisa digunakan pukul 4, padahal kami berharap bisa pulang secepatnya. Akhirnya, saya menelepon 118, layanan ambulan dari dinas kesehatan. Bersyukur mereka bisa membantu proses pulanya mertua.

Kami sangat butuh ambulan, karena mertua sudah sering tidak sadarkan diri dalam tidurnya. Lambat dalam merespon percakapan. Tapi entah kenapa saya masih optimis, beliau bisa pulih. Mungkin karena melihat gerakannya yang masih terlihat bugar.

Proses membawa pasien, dari ruang rawat sampai ambulan, nyaris tanpa masalah berarti. Semuanya lancar. Padahal petugas ambulna keduanya adalah suster wanita. Istri saya hubungi untuk bersiap dirumah.

Didepan rumah sudah banyak tetangga yang siap membantu menggotong pasien. Hingga sampai dikasur semua tetangga masih banyak berkunjung untuk melihat kondisi mertua.

Tidak lama setelah pasien sampai dikasur, tetangga mulai pulang meninggalkan rumah kami. Nambo (mertua laki2) bersiap untuk jalan lagi ambil oksigen. Istri saya menghubungi keluarga mengabarkan kalau ibunya sudah dirumah. Dan mertua saya didampingi seorang tetangga sahabatnya, di bacakan yaasiin disebelahnya.

Istri saya masih berbicara ditelepon, ketika saya menghampiri mertiua yang terbaring. Saya cukup yakin bahwa beliau dalam keadaan sekarat, maka istri dan nambo saya panggil. Segera kembali di talqin. Tidak sempat lama, lalu kami sadari bahwa mertua saya, ibu dari istri saya, telah wafat.

Hanya berselang beberapa menit setelah beliau pulang, seperti permintaannya ketika masih di rumah sakit. Innalillahi wainna ilaihi roojiun.

Semoga Engkau sayangi dia yaa Rabb, selamatkan dan kasihi dialam barunya, aamiin..

SITI FAIZAH (wafat 28 Januari 2015)
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

0 comments:

Post a Comment