Keluarga besar mamah saya, dari mulai Nenek, Paman, Sepupu, dan ucrit2 para keponakan semua kumpul di Leuwiliang. Sebuah wilayah yang berjarak sekitar 1/2 jam dari Bogor kota. Tepatnya, di desa Barengkok. Desa yang waktu saya kecil dulu, begitu penuh perjuangan untuk mencapainya.
Saya masih ingat ketika saya harus masuk Bus dari terminal Cililitan, melalui jendela. Hal itu terpaksa dilakukan karena memang dimusim mudik, penumpang bus sangat padat. Perjuangan lainnya adalah, ketika menuju Leuwiliang, harus transit dulu di stasiun Bogor, lalu dilanjutkan dengan menggunakan angkot dari ujung bogor sampai ujung dari trayek angkot itu sendiri, Leuwiliang.
Perjalanan kayanya lammmaaa banget, apalagi kalau mabok maka bertambahlah penderitaan selama dijalan. Makanya, kalau mudik waktu dulu, kami di kampung bisa sampai sebulan gak pulang-pulang.Tapi sekarang, Jakarta - Leuwiliang terasa dekat sekali. Banyak alternatif cara tempuh. Seperti bus AC Pulo Gadung - Leuwiliang, bus yang biasanya kami naiki dari daerah Pulomas. Bus langsung menuju Tol, lewat Sentul, Bubulak langsung ke Leuwiliang. Busnya rata-rata masih bagus, jadi perjalanan terasa nyaman. Estimasi waktu perjalanan sekitar 2 Jam.
Alternatif lainnya adalah naik motor. Jika kita bisa memilih waktu dimana jalanan diperkirakan lengang, maka perjalanan menuju Leuwiliang terasa cepat. Biasanya, jalanan sepi diwaktu pagi, dimana jalanan saat itu belum dipenuhi kendaraan para kaum urban. Saya pernah melakukan perjalanan pukul 4 pagi. Menyenangkan menemui kota Bogor diwaktu shubuh, udaranya segar. Hanya saja memang, saya menggunakan jaket berlapis karena menggunakan motor artinya menembus udara yang sangat dingin. Estimasi waktu tempuh 2,5 jam.
Malam ini, saya sudah berada di rumah nenek, alhamdulillah beliau masih sehat. Pagi tadi berdua istri saya menembus udara dingin menggunakan motor Verza. Untuk pertama kalinya si Verza keluar dari Jakarta. Tarikannya mantab ya si Verza, hahahaaa. Mungkin karena sebelumnya hanya menggunakan bebek Supra Fit, yang bikin pegel selama diperjalanan karena sudah sepuh dan tarikannya sudah ngempos, jadi berasa sekali perbedaannya.
Kabar 'buruknya', ternyata kemarin Hannan, anak kedua saya, jatuh masuk kedalam sumur. Perkiraan tingginya hampir 3 meter. Air didalamnya sekitar 70 cm. Untungnya, saat kejadian, banyak Mamang-mamang saya yang berada didekat lokasi sumur. Kata mereka, sulitnya ngangkat Hannan yang memang agak gendut itu hahahaa... Setelah diperiksa, ada beberapa luka lecet disekitar muka. Tapi tulang, kepala dan anggota tubuh penting lainnya gak apa-apa, Alhamdulillah.
Yang periksa, adalah tukang urut yang segera saja dipanggil gak lama setelah kejadian, Mang Idam namanya. Kata Ayah saya : "Alhamdulillah, Allah masih menjaga Hannan." Mengingat tingginya sumur dan resiko ketika jatuh, seperti tertimpa benda berat atau resiko lainnya, syukurlah Hannan terhindar dari bahaya itu semua. Thx yaa Rabb :)
Jadi, kalau dari cerita Syamil, sebenarnya Hannan sudah diperingatkan, saat itu bagian atas dari sumur sudah ditutup oleh kayu dan asbes secara rapih.Tapi dasar saja Hannan, dia malah test case, mulai dari pinggir sumur hingga melompat beberapa kali diatas asbes, ya tentu saja roboh. Mengingat berat badan Hannan mungkin lebih dari 45 Kg.Kejadian itu, semoga menjadi bagian dari pelajaran bagi kami, khususnya Syamil dan Hannan. Agar lebih berhati-hati ketika bermain. Dan juga, agar lebih mendengar nasihat bagi Hannan.
Jadi, kalau dari cerita Syamil, sebenarnya Hannan sudah diperingatkan, saat itu bagian atas dari sumur sudah ditutup oleh kayu dan asbes secara rapih.Tapi dasar saja Hannan, dia malah test case, mulai dari pinggir sumur hingga melompat beberapa kali diatas asbes, ya tentu saja roboh. Mengingat berat badan Hannan mungkin lebih dari 45 Kg.Kejadian itu, semoga menjadi bagian dari pelajaran bagi kami, khususnya Syamil dan Hannan. Agar lebih berhati-hati ketika bermain. Dan juga, agar lebih mendengar nasihat bagi Hannan.
Demikian sekedar berkisah dimalam ini, malam dimana angin lagi malas hadir. Udara terasa panas, saya menulis ini didalam kegelapan menghadap kebun didepan rumah, sekedar mencari angin, siapa tau ada yang berkenan mampir.
RSS Feed
Twitter
03:16
Dany Wicaksono, S.Kom


0 comments:
Post a Comment